Kamis, 13 September 2007

spiritual LEARNING

PENDIDIKAN AKHLAKUL KARIMAH DAN BUDI PEKERTI SISWA SEKOLAH LANJUTAN DI DKI JAKARTA, sebagai bagian dari upaya pembentukan GENERASI YANG BERSIH TRANSPARAN dan PROFESIONAL
H।Darsana Setiawan*


LATAR BELAKANG
Jakarta sebagai Ibukota negara dan kota Metropolitan merupakan sentra urbanisasi berbagai strata kehidupan termasuk para pelajar dan mahasiswa। Kondisi ini semakin meningkat terutama pada situasi krisis multidimensional sampai saat ini. Heterogenisasi berbagai suku, adat istiadat, agama, budaya dan sikap perilaku dapat dengan mudah menimbulkan ekses negatif terjadinya bentrokan, tawuran, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, pelanggaran hak serta berbagai tindak kriminal.Diperlukan upaya untuk menyikapi secara positif sehingga berbagai ekses negatif tersebut tidak muncul (terutama di kalangan pelajar) melalui berbagai aktivitas pembelajaran di sekolah.

PENDIDIKAN AKHLAKUL KARIMAH DAN BUDI PEKERTI DI SEKOLAH
Dipilih pendidikan akhlakul karimah dan budi pekerti sebagai topik utama, dengan pertimbangan ;Dengan akhlak mulia serta budi pekerti luhur maka siswa akan menerima kontribusi bermakna di dalam pendewasaan berpikir, bersikap serta berperilaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian output pendidikan di masa datang tidak hanya siswa yang cerdas secara rasional, akan tetapi juga cerdas secara emosional, sosial dan spiritual.Diyakini bahwa akumulasi kemampuan dari Intelektual Quotient(IQ), Emosional Quotient(EQ), Creativity Quotient(CQ), dan Adversity Quotient(AQ) yang tergali melalui proses pembelajaran bermakna dengan bimbingan Guru yang berkarakter dan profesional akan melahirkan kemampuan ;Spiritual Quotient(SQ) ; Inilah sebenarnya terminologi akhir dari hasil belajar yang harus di-advocasi secara proporsional tidak hanya oleh lembaga pendidikan skolastik, akan tetapi juga oleh masyarakat dan orang tua sebagai pemegang mandat pertama tanggung jawab masa depan anak. Kondisi yang kurang menggembirakan dari proses pendidikan anak bangsa dewasa ini harus segera diakhiri, dengan cara memberikan ruang keterlibatan dan kepedulian masyarakat akan peran tanggung jawab mereka sebagai BULETIN KURIKULUM DI LUAR SEKOLAH
। Oleh karena proses pendidikan selalu melewati lorong pembiasaan, pembelajaran dan peneladanan, maka kemanapun para pembelajar akan mengembara di dalam pencapaian masa depannya, pasti terinfiltrasi oleh sikap perilaku orang tua maupun masyarakat di sekitar saat menjalankan amanah profesinya masing-masing. Pendidikan memang tidak berada di ruang hampa, yang terbebas dari segala kontaminasi virus-virus kontra produktif dari terbentuknya Kecerdasan Spritual (Spiritual Quotient). Oleh karenanya pendidikan diharapkan mampu menjadi filter yang akomodatif dari seluruh kontaminan yang masuk ke dalam lubuk sanubari anak didik, sehingga proses internalisasinya menghasilkan kemampuan diri untuk bertahan dari serangan dan gangguan perilaku menyimpang.

KONDISI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA DAN KEWARGANEGARAAN
Dua mata pelajaran yang selama ini dianggap oleh masyarakat kita lebih dominan memberikan pelayanan ranah afektif adalah Pendidikan Agama dan Pendidikan kewarganegaraan। a. Pembelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewargane-garaan yang diberikan selama ini di sekolah, dinilai belum mampu membentuk sikap dan kepribadian siswa yang berakhlakul karimah serta berbudi pekerti luhur. Padahal esensi pembelajaran nya justru menanamkan akhlak mulia serta budi pekerti luhur, dan bukannya sekedar pengetahuan tentang agama dan kewarganegaraan.b. Metodologi pembelajaran Pendidikan Agama dan Kewarganegaraan di sekolah yang terlalu verbalistis dan hafalan tidak menyentuh ranah perilaku, serta terlepas dari prinsip keteladanan. Hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh sistem sentralistis dan budaya petunjuk (juknis dan juklak) Proses Belajar Mengajar yang mengeliminir kreativitas serta otonomi pedagogi Guru.c. Sistem pembelajaran yang partial dari setiap mata pelajaran menyulitkan siswa di dalam implementasi pada kehidupan nyata di masyarakat. d. Orientasi pembelajaran masih dipegang oleh Guru, melalui seberapa tinggi prosentase target kurikulum yang telah di ajarkan. Hal ini menyebabkan implementasi materi bahan pembelajaran lebih bersifat wacana bahkan prawacana. e. Orientasi kurikulumnya memang pada materi pembelajaran yang artinya Siswa telah belajar tentang ….”sesuatu” ….dan belum pada sasaran kompetensi peserta didik (Siswa dapat melakukan ….”sesuatu”….)

STRATEGI PEMBELAJARAN
Upaya pendidikan Akhlakul Karimah dan Budi Pekerti di sekolah diselengga-rakan secara integratif di dalam setiap mata pelajaran yang relevan, ke dalam setiap tatanan sosial budaya pendidikan।Sajian materi tidak lagi sebagai substansi semata-mata akan tetapi lebih difokuskan kepada proses “interaksi sosial budaya dan edukatif antara siswa dengan seluruh komponen kehidupan di sekolah maupun di masyarakat yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulia serta budi pekerti luhur”। Guru sebenarnya sudah merancang program pembelajarannya dengan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) ; Siswa dapat melakukan …।”apa”…sehingga hanya konsistensi proses pelayanan Guru yang diperlukan agar pada akhir proses pembelajaran dapat diukur kemampuan dari perilaku konstruktif siswa। Hambatan yang ditemui para Guru di lapangan adalah sulitnya membuat alat ukur penilaian afektif yang memenuhi kaidah-kaidah evaluasi non kognitif। Sehingga seringkali warna subjektivitas membaur lebih dominan di dalamnya। Keterlibatan orang tua dan masyarakat sekolah diperlukan tidak sekedar sebagai kontributor anggaran dan biaya pendidikan di sekolah semata, namun terlebih sebagai partnership aktif yang tiada henti ikut serta mengambil peran membantu pembinaan sikap, moral dan attitude para peserta didik। Inilah keterpaduan kinerja yang menjadi modal awal terbentuknya Community Based Education di masa depan.

TOPIK MATERI SAJIAN
Dipilih enam topik utama sajian materi Akhlakul Karimah dan Budi Pekerti yaitu;
1. Akhlakul karimah kepada Alllah swt,dengan men”tauchid”kan Allah, bertaqwa, berdoa, berdzikir dan bertawakal kepada Allah swt sesuai tuntunan
2. Akhlakul karimah kepada para Nabi dan Pemimpin, dengan mencintai dan mentaati petunjuknya, menziarahi dan mempelajari sejarahnya
3. Akhlakul karimah kepada Keluarga, dengan berbuat baik kepada Orang Tua, saling menghormati dan mencintai, bersifat terbuka dan sabar, selalu bersyukur, tawadhu’, benar dan jujur.
4.Akhlakul karimah kepada Masyarakat dan Tetangga,dengan saling hormat menghormati, persaudaraan, adil pemaaf, dan selalu bermusyawarah di dalam mengambil keputusan.
5 . Akhlakul karimah kepada Kepala Sekolah, Guru, karyawan dan teman di sekolah dengan menghormati dan selalu berbuat baik, serta menjauhi akhlak yang tidak terpuji seperti dendam, iri hati, khianat, penipu, pembohong dan sebagainya.
6. Akhlakul karimah kepada Alam Raya, Hewan, Tumbuhan, Air, Udara serta pendukung sumber kehidupan lainnya, sebagai ciptaan Allah swt.
Memang tidak mudah mengintegrasikan ke-enam topik tersebut ke dalam setiap proses pembelajaran yang dijalani dan sekaligus juga di yakini. Namun sebenarnya tidaklah sulit apabila kita bersedia memulainya kembali, sekarang juga diawali dari diri kita sendiri !.

PENUTUP
Implementasi ke dalam kehidupan keseharian peserta didik dengan Akhlakul Karimah akan menjadi penyejuk dari lawan interaksi komunikasi interpersonal। Diharapkan kondisi tersebut menjadi benih-benih baru yang mulai di tanam di ladang kehidupan kemasyarakatan kita। Seperti kata bijak dituliskan ; “Apabila anak mendapatkan sebaik-baiknya perlakuan, ia akan belajar ber-keadilan”। Namun hanya dengan sikap konsisten terhadap apa yang diyakini membawa perubahan/ perbaikan dan berpegang teguh pada keyakinan tersebut (istiqomah), maka bangsa ini akan mampu keluar dari kemelut krisis multi dimensional।Dengan jiwa Akhlakul Karimah serta berbudi pekerti luhur para peserta didik sekaligus telah menerapkan konsep Bersih, Transparan dan Profesional (BTP)। Oleh karenanya di dalam Klab BTP Sekolah, nuansa Akhlakul Karimah dan Budi Pekerti menjadi tarikan nafas setiap aktivitasnya। Akhlakul karimah, Budi Pekerti dan BTP di dalam sektor pendidikan, merupakan seluruh sisi mata uang yang tidak dapat diabaikan, apabila tidak ingin kehilangan makna।Ibarat suatu event olah raga, sekarang bola telah digulirkan kembali ke dalam lapangan permainan, tinggal bagaimana para pelatih, pemain dan para ofisial serta penonton dan sponsor berpadu di dalam harmoni permainan cantik sesuai dengan “rule the game”, sehingga tim tersebut tidak hanya selalu menang akan tetapi sekaligus mendapat pujian karena nilai-nilai sportivitasnya।Penutup tulisan ini ingin kembali mensitir statemen salah satu pendiri BTP (Aburizal Bakrie) “dengan ber BTP saja kita belum tentu mampu survive di era kompetisi global mendatang, apalagi tidak dengan BTP” . Dan mari kita lengkapi statemen tersebut dengan suatu harapan, karena harapan itu suatu doa yang Insya Allah akan dikabulkanNya. “Dengan ber Akhlakul Karimah, serta Berbudi Pekerti Luhur sekaligus ber BTP pasti akan lebih baik. Amien.
Jakarta,17September2001


DIPOSTING (DIANGKAT KEMBALI) Ba’da Subuh tanggal 2 Ramadhan 1428 H di Jakarta.
Semoga Bermanfaat. Amien.

Selasa, 21 Agustus 2007

INFO-LOKAL

RW 10 Kelurahan Baru Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur pada hari Minggu tanggal 19 Agustus 2007 punya gawe rutine tahunan (Gerak jalan warga & bagi-bagi tropy, doorprize) dan gawe baru Peresmian Kelompok Bermain Pendidikan Anak Usia Dini/PAUD TUMBUHKEMBANG.
Peresmian dilakukan oleh Bapak Camat Pasar Rebo Jakarta Timur (Drs. Denny Wahyu Hariyanto,M.Si) disaksikan oleh Bapak Lurah Baru (Dedi Herdiana,S.Sos) serta seluruh anggota dan ketua Dekel, Pengurus PKK, Pengurus RW 10 dan segenap Pengurus Rt di RW 10.
Tidak kurang dari 53 orang peserta didik di Kelompok Bermain ini ikut aktif dalam memeriahkan acara pesersmian, yang ditandai dengan penandatangan prasasti oleh bapak Camat Pasar Rebo Jaktim dan ditutup dengan penampilan marawis Remaja mushola Al Furqon Rt.01 RW 10 Kel.Baru.
Kelompok bermain PAUD TUMBUHKEMBANG, diketuai oleh Ibu.Hj.Wienarni Darsana dibantu 6 orang fasilitator pembimbing yang berasal dari warga RW 10 Kel,Baru.
Dalam sambutannya Pembina Kelompok Bermain PAUD TUMBUHKEMBANG (Bp Drs.Darsana Setiawan,M.Si) menyampaikan bahwa layanan publik semacam ini menuntut keseriusan semua pihak untuk terlibat sesuai dengan peran dan kompetensinya masing-masing. Education for All tidak akan bermakna bila tidak melibatkan All for Education.

Selasa, 07 Agustus 2007

MEMAKNAI PENDIDIKAN


Proses Pendidikan merupakan peristiwa aktif yang yang mengandung perubahan multidimensional untuk menjawab tantangan realitas kehidupan. Oleh karena itu, yang kita butuhkan saat ini dalah mensikapi semua perubahan ini secara produktif, dan bukan sekedar langkah reaktif dan responsif.

Aktivitas dunia pendidikan dituntut agar mampu mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) hasil pendidikan, yang memiliki kompetensi tidak saja mampu memenangkan persaingan di pasar kerja global yang berstrata menengah maupun tinggi namun juga memiiki “akal budi” untuk kesuksessan hidup di masyarakat (kecerdasan sosial) .

Oleh karena itu proses pendidikan yang berlangsung secara individual, melalui sentuhan-sentuhan nurani para Guru, Dosen atau Tutor hendaknya dapat berlangsung melalui mekanisme hubungan interaktif dan interelasi secara jujur dan adil.

Itu pula sebabnya, kesadaran akan arti penting pendidikan jangan sampai dibelokkan arah menjadi upaya memasalkan pendidikan melalui aktivitas pemerataan yang tidak berkualitas. Apabila hal ini terjadi, maka kondisi yang kontraproduktif ini justru akan menjadi penghalang proses akselerasi pemberdayaan Sumber Daya Manusia kita.

Demikian pula kesadaran akan tanggung jawab bersama beban biaya pendidikan, harus dirumuskan secara adil, sehingga memungkinkan terjadinya subsidi silang dari mereka yang telah menikmati “fasilitasi” negara, sehingga tergugah untuk membantu masyarakat lain yang kekurangan। Manajemen partisipatoris di dalam pengelolaan lembaga pendidikan, diharapkan tidak saja mampu menampung aspirasi stakeholders pendidikan, akan tetapi juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa saling memiliki (sence of belonging) pendidikan kita. Pada level inilah proses demokratisasi pendidikan diimplementasikan untuk memenuhi hak-hak setiap warga negara untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan internalnya.


Jakarta २००७
Darsana Setiawan